PMII dan Generasi Z: Jangan Biarkan Kaderisasi Kalah oleh Algoritma


PMII dan Generasi Z: Jangan Biarkan Kaderisasi Kalah oleh Algoritma

Opini, kawal bangsa.com -----
Generasi Z hidup di tengah banjir informasi, budaya viral, dan perkembangan kecerdasan buatan. Tantangan PMII bukan sekadar mengikuti perubahan teknologi, melainkan memastikan kader tetap memiliki nalar kritis, tradisi intelektual, nilai, dan keberpihakan kepada masyarakat.
Oleh: Rifwan Efendi
Peserta Pelatihan Kader Lanjut (PKL) PC PMII Kota Padang
Generasi Z tumbuh dalam dunia yang bergerak cepat. Smartphone berada dalam genggaman, informasi berpindah dalam hitungan detik, media sosial menjadi ruang komunikasi, sementara kecerdasan buatan mulai masuk ke ruang akademik dan organisasi.
Kondisi ini memberi mahasiswa akses pengetahuan yang jauh lebih luas. Berita, jurnal, buku digital, video pembelajaran, forum diskusi, hingga berbagai perangkat berbasis kecerdasan buatan dapat diakses dengan mudah.Namun, persoalan mahasiswa hari ini bukan lagi sekadar bagaimana memperoleh informasi. Persoalannya adalah bagaimana mengubah informasi menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kesadaran, dan kesadaran menjadi tindakan.
Di sinilah tantangan kaderisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menjadi semakin penting.PMII perlu beradaptasi dengan karakter Generasi Z dan perkembangan teknologi. Tetapi adaptasi tidak boleh membuat kaderisasi kehilangan substansi. Di tengah perubahan yang cepat, kader tetap membutuhkan nalar kritis, tradisi intelektual, keteguhan nilai, dan keberpihakan kepada masyarakat.
Ketika Informasi Melimpah, Kedalaman Menjadi Tantangan
Generasi Z dapat mengetahui banyak hal dalam waktu singkat. Namun, mengetahui tidak selalu berarti memahami.Budaya scrolling membuat perhatian bergerak cepat dari satu informasi ke informasi berikutnya. Satu berita dibaca, kemudian dilupakan. Satu video ditonton, lalu digantikan video lain. Akibatnya, mahasiswa berpotensi mengetahui banyak isu secara permukaan tanpa memahami akar persoalannya.
Karena itu, kaderisasi PMII perlu menghidupkan kembali tradisi membaca, berdiskusi, menulis, mengkaji, dan melakukan riset.Kader tidak cukup mengetahui apa yang sedang viral. Kader perlu mampu bertanya: mengapa persoalan itu terjadi, siapa yang terdampak, bagaimana struktur masalahnya, dan apa yang dapat dilakukan?
Di tengah informasi yang semakin cepat, kedalaman berpikir justru menjadi kekuatan.
Tradisi intelektual tersebut juga perlu mengubah posisi kader dari konsumen menjadi produsen gagasan.Kader PMII perlu dibiasakan menulis opini, membaca data, melakukan kajian, melakukan observasi sosial, menyusun argumentasi, serta menyampaikan gagasan kepada publik. Media sosial tidak seharusnya hanya menjadi tempat mengunggah dokumentasi kegiatan, tetapi juga ruang pendidikan dan penyebaran gagasan.
Sebuah kajian dapat dikembangkan menjadi artikel. Data lapangan dapat menjadi bahan diskusi. Persoalan masyarakat dapat diangkat menjadi konten edukatif. Dengan demikian, teknologi digunakan bukan sekadar untuk menunjukkan eksistensi organisasi, tetapi untuk memperluas manfaat gagasan.
Jangan Terjebak pada Algoritma
Media sosial membawa ukuran baru tentang keberhasilan: likes, komentar, followers, dan views. Angka tersebut memang berguna untuk melihat jangkauan komunikasi, tetapi tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran kualitas.Konten yang viral belum tentu mendidik. Tulisan yang tidak viral belum tentu tidak penting.Karena itu, kader PMII perlu memahami perbedaan antara viral dan bernilai.
Organisasi tidak seharusnya hanya mengejar perhatian algoritma. Yang lebih penting adalah membangun pengaruh melalui gagasan.Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya berapa banyak orang melihat sebuah konten, tetapi apa yang dipahami publik setelah melihatnya.
Jika media sosial mampu membuat masyarakat lebih memahami sebuah persoalan, membuka ruang diskusi, atau mendorong kepedulian terhadap masalah sosial, maka teknologi telah digunakan sebagai alat gerakan, bukan sekadar alat eksistensi.
AI: Alat Bantu, Bukan Pengganti Nalar
Perkembangan kecerdasan buatan menambah tantangan baru bagi mahasiswa. AI dapat membantu mencari ide, mengolah informasi, menerjemahkan teks, menyusun kerangka tulisan, hingga mendukung pekerjaan akademik dan organisasi.
Namun, kemudahan tersebut harus diikuti tanggung jawab intelektual.Kader yang menggunakan AI tetap harus membaca, memeriksa, memverifikasi, mengkritisi, dan memahami hasil yang diberikan. AI tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan kebiasaan membaca dan menulis.
Karena itu, literasi AI dalam kaderisasi tidak cukup berupa kemampuan teknis. Kader juga perlu memahami etika, verifikasi informasi, orisinalitas gagasan, serta tanggung jawab atas produk intelektual yang dihasilkan.
Teknologi seharusnya memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan proses berpikir manusia.
Kaderisasi Harus Terlihat Setelah Forum
Kaderisasi sering kali identik dengan forum, materi, diskusi, dan kegiatan organisasi. Semua itu penting, tetapi kaderisasi tidak boleh berhenti ketika forum selesai.Ukuran penting kaderisasi justru terlihat dari perubahan kader setelah kembali ke lingkungan masing-masing.
Apakah ia semakin rajin membaca? Mampu menulis? Berani menyampaikan pendapat? Mampu menghubungkan teori dengan realitas? Peduli terhadap persoalan masyarakat?
Jika kaderisasi hanya menghasilkan kemampuan mengingat materi tanpa perubahan cara berpikir dan bertindak, maka proses tersebut perlu dievaluasi.Kaderisasi bukan sekadar memindahkan materi dari narasumber kepada peserta. Kaderisasi adalah proses membentuk cara berpikir sekaligus cara bertindak.
Karena itu, kader perlu diberi pengalaman nyata melalui riset, kajian, penulisan, advokasi, pengabdian, dan evaluasi sosial.Kader harus keluar dari ruang teori dan berhadapan dengan realitas.
Dari Ruang Organisasi ke Ruang Masyarakat
Mahasiswa bukan hanya kelompok yang sedang mengejar gelar akademik. Mereka juga memiliki tanggung jawab intelektual untuk membaca persoalan yang terjadi di sekitarnya.Persoalan pendidikan, ekonomi masyarakat, ketimpangan sosial, lingkungan, dan berbagai persoalan kemasyarakatan membutuhkan perhatian mahasiswa sebagai kelompok terdidik.
Dalam konteks PMII, nilai keislaman, tradisi intelektual, komitmen kebangsaan, dan keberpihakan kepada masyarakat perlu diterjemahkan dalam tindakan konkret.Kaderisasi harus melahirkan kader yang tidak hanya kuat di internal organisasi, tetapi juga memiliki relevansi sosial.
Artinya, keberhasilan kaderisasi tidak cukup diukur dari seberapa aktif seorang kader dalam agenda organisasi, tetapi juga dari kemampuannya membaca persoalan, membangun gagasan, dan mengambil peran di tengah masyarakat.
Adaptasi Tanpa Kehilangan Arah
PMII perlu beradaptasi dengan Generasi Z. Metode kaderisasi dapat diperbarui, teknologi perlu dimanfaatkan, dan pola komunikasi organisasi harus mengikuti perkembangan zaman.
Namun, perubahan metode tidak boleh menghilangkan tujuan.Kaderisasi perlu mempertemukan tiga kekuatan: ideologi sebagai fondasi, intelektualitas sebagai senjata berpikir, dan teknologi sebagai alat gerakan.
Ideologi memberikan arah. Intelektualitas membantu kader memahami realitas. Teknologi memperluas jangkauan gagasan dan gerakan.Ketiganya perlu berjalan bersama.Tantangan Generasi Z bukan sekadar bagaimana menguasai teknologi, tetapi bagaimana tetap memiliki kedalaman berpikir ketika dunia bergerak semakin cepat.
PMII tidak cukup hanya mengajak kader mengikuti tren. Kader perlu memahami dan mengkritisinya. PMII tidak cukup memiliki kader yang aktif di media sosial. Kader perlu menjadikan ruang digital sebagai medium pendidikan, advokasi, dan perjuangan gagasan.
Begitu pula dengan AI. Kader tidak hanya perlu mengetahui cara menggunakannya, tetapi juga harus memiliki nalar kritis, etika, dan tanggung jawab intelektual.Pada akhirnya, generasi boleh berganti, teknologi boleh berubah, dan platform digital dapat datang serta pergi. Yang tidak boleh hilang adalah arah.
Kaderisasi PMII tidak cukup sekadar beradaptasi. Kaderisasi harus melahirkan kader yang mampu membaca zaman, mengkritik zaman, dan mengambil bagian dalam menentukan arah perubahan. []

Editor,  Ajay

Post a Comment

Previous Post Next Post