Maulid Nabi di Padang Pariaman: Merawat Warisan Budaya, Memperkuat Syiar IslamOleh: Dr. Julhadi, M.A. (Ketua Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat)


Maulid Nabi di Padang Pariaman: Merawat Warisan Budaya, Memperkuat Syiar Islam
Oleh: Dr. Julhadi, M.A 
(Ketua Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat) 

Artikel, kawalbangsa.com -----
Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya akan keragaman budaya, adat istiadat, dan tradisi keagamaan. Hampir setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan nilai-nilai keislaman yang berpadu dengan kearifan lokal. Salah satu tradisi yang memiliki kekhasan dan terus bertahan hingga kini adalah perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Tradisi ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan telah menjadi identitas budaya masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Setiap memasuki bulan Rabiul Awal, suasana religius begitu terasa di berbagai nagari. Masyarakat menyambut hari kelahiran Rasulullah saw. dengan penuh suka cita melalui beragam tradisi yang sarat makna, seperti malamang, bunggo lado, serta arak-arakan menuju masjid. Keunikan tersebut menjadikan peringatan Maulid di Padang Pariaman memiliki karakter yang berbeda dibandingkan daerah lain di Indonesia. Tradisi ini mencerminkan keberhasilan masyarakat memadukan nilai-nilai Islam dengan budaya Minangkabau secara harmonis tanpa menghilangkan substansi ajaran agama.
Dalam dua tahun terakhir, terdapat inovasi yang patut diapresiasi dari Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman.

 Perayaan Maulid tidak lagi hanya berlangsung di surau atau masjid-masjid nagari, tetapi juga dipusatkan di Masjid Kompleks Kantor Bupati Padang Pariaman sebagai agenda bersama pemerintah dan masyarakat. Langkah ini menghadirkan dimensi baru dalam syiar Islam sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Padang Pariaman kepada masyarakat yang lebih luas.

Inisiatif tersebut menunjukkan adanya perhatian pemerintah daerah terhadap pelestarian tradisi keagamaan sebagai bagian dari identitas daerah. Kepemimpinan Bupati Padang Pariaman, Dr. John Kenedy Azis, bersama jajaran pemerintah daerah, layak diapresiasi atas upaya menghadirkan ruang kolaborasi antara pemerintah, ulama, ninik mamak, cadiak pandai, dan masyarakat dalam menyemarakkan peringatan Maulid Nabi. Kehadiran pemerintah dalam kegiatan ini tidak hanya memperkuat syiar Islam, tetapi juga menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal yang bernilai edukatif dan mempererat kebersamaan masyarakat.

Dari perspektif antropologi Islam, tradisi Maulid di Padang Pariaman merupakan contoh nyata living Islam, yaitu bagaimana ajaran Islam hidup, berkembang, dan dipraktikkan dalam ruang sosial masyarakat. Islam hadir tidak untuk menghapus budaya, tetapi membimbing dan menyempurnakannya selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. 

Oleh sebab itu, tradisi seperti malamang dan bunggo lado merupakan manifestasi kecintaan kepada Rasulullah saw. yang diwujudkan melalui budaya gotong royong, sedekah, dan kebersamaan.

Tradisi malamang mengandung pesan sosial yang sangat kuat. Proses memasak lemang secara bersama-sama menjadi media mempererat silaturahmi antarkeluarga, membangun semangat tolong-menolong, serta memperkuat solidaritas di tengah masyarakat.

 Lemang yang dihasilkan bukan sekadar makanan khas, melainkan simbol kebersamaan dan rasa syukur yang kemudian dibagikan kepada jamaah sebagai bagian dari kemeriahan Maulid. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan ajaran Islam mengenai ta'awun (tolong-menolong) dan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim).

Demikian pula tradisi Bunggo Lado, yaitu rangkaian hiasan yang memuat uang atau hadiah sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam mendukung kegiatan Maulid. Tradisi ini memiliki makna sosial yang mendalam karena menggambarkan semangat berbagi, kepedulian, dan kebersamaan dalam memakmurkan masjid.

 Bunggo lado bukan hanya simbol budaya, tetapi juga mencerminkan tingginya partisipasi masyarakat dalam mendukung kegiatan keagamaan secara sukarela.

Keterlibatan pemerintah daerah dalam rangkaian kegiatan Maulid juga memberikan pesan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Dukungan Bupati beserta seluruh perangkat daerah menunjukkan adanya komitmen untuk menjaga tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Padang Pariaman.

 Sinergi antara pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat inilah yang menjadi kekuatan utama sehingga tradisi Maulid tetap lestari dan terus berkembang mengikuti dinamika zaman.

Di sisi lain, setiap tradisi yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam bentuk sumbangan atau sedekah memerlukan tata kelola yang baik. Pengelolaan dana yang dihimpun melalui kegiatan Maulid akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila dilaksanakan secara transparan, akuntabel, dan diarahkan bagi kemaslahatan umat. 

Dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat fungsi masjid, mendukung pendidikan keagamaan, memberikan beasiswa kepada generasi muda, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta mengembangkan berbagai program sosial yang bermanfaat.

 Dengan tata kelola yang baik, tradisi Maulid tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat.
Sebagai masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi falsafah "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah", kita memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa adat dan agama terus berjalan beriringan. Tradisi harus dipelihara sebagai warisan budaya, sementara tata kelolanya perlu terus disempurnakan agar selaras dengan nilai-nilai keadilan, amanah, transparansi, dan kemaslahatan yang diajarkan Islam.

Pada akhirnya, kemuliaan peringatan Maulid Nabi tidak diukur dari semaraknya arak-arakan, banyaknya lemang yang disajikan, ataupun megahnya bunggo lado yang diarak menuju masjid. Esensi yang paling utama adalah bagaimana peringatan tersebut mampu menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah saw., memperkokoh persaudaraan, mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat, serta menghadirkan manfaat yang nyata bagi kehidupan umat.

Tradisi Maulid di Padang Pariaman merupakan aset budaya religius yang sangat berharga. Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, ulama, ninik mamak, serta komitmen pemerintah daerah dalam melestarikannya, tradisi ini berpotensi menjadi salah satu ikon budaya Islam Nusantara yang membanggakan, bukan hanya bagi Sumatera Barat, tetapi juga bagi Indonesia. 

Di tengah arus modernisasi, kemampuan masyarakat Padang Pariaman menjaga harmoni antara adat, agama, dan pemerintahan merupakan teladan yang patut diapresiasi dan terus diwariskan kepada generasi mendatang. 

Editor, Ajay

Post a Comment

Previous Post Next Post