ISLAMIC AND NON ISLAMIC SCIENCE A NEED OF INTERDISCIPLINARY STUDIES
(Kajian Interdisipliner Ilmu Pengetahuan Islam dan Non-Islam)
Oleh: EDY JUARMINSON, M.Pd
(Mahasiswa S3 Prodi Studi Islam Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat)
Opini, kawalbangsa.com ------
Islam dan Pendekatan Interdisipliner dalam Memahami Realitas Kehidupan
Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw diyakini sebagai ajaran yang mampu mewujudkan kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Al-Qur’an dan Hadis mengajarkan nilai-nilai yang ideal seperti keseimbangan antara kebutuhan material dan spiritual, penghargaan terhadap ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, demokrasi, persaudaraan, dan akhlak mulia. Secara teoritis, ajaran Islam menawarkan konsep kehidupan yang dinamis, progresif, dan humanis.
Namun, realitas sosial menunjukkan adanya kesenjangan antara idealitas ajaran Islam dan praktik kehidupan umat. Di tengah semaraknya ritual keagamaan, berbagai persoalan sosial seperti korupsi, kriminalitas, kekerasan, dan kerusakan lingkungan masih terus terjadi. Kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah masalah terletak pada ajaran agama atau pada cara umat memahami dan mengamalkannya. Sejumlah pemikir Muslim kontemporer seperti Muhammad Arkoun, Mohammed Abed al-Jabri, dan Hasan Hanafi menilai bahwa krisis tersebut muncul akibat kegagalan memahami Islam secara substantif dan kontekstual.
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern, pendekatan interdisipliner menjadi salah satu metode penting dalam kajian akademik. Interdisiplin merupakan pendekatan yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu untuk memahami dan menyelesaikan persoalan yang kompleks. Pendekatan ini tidak lagi membatasi diri pada satu bidang ilmu, tetapi memadukan perspektif sosial, humaniora, sains, dan bidang lainnya secara terpadu.
Dalam studi Islam, pendekatan interdisipliner sangat diperlukan karena pemahaman agama tidak cukup hanya melalui pendekatan tekstual. Kajian terhadap Al-Qur’an dan Hadis perlu dilengkapi dengan pendekatan sosiologis, historis, psikologis, budaya, hingga hermeneutik agar menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif dan relevan dengan realitas masyarakat. Misalnya, pemahaman terhadap ayat tentang poligami tidak hanya dilihat dari teks normatif, tetapi juga mempertimbangkan aspek psikologis, budaya lokal, dan kondisi sosial masyarakat.
Pendekatan interdisipliner memberikan beberapa manfaat penting.
Pertama, menghasilkan pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap suatu persoalan. Kedua, mendorong inovasi dan kreativitas melalui kolaborasi lintas disiplin. Ketiga, melahirkan solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan. Keempat, mengembangkan kemampuan berpikir lintas disiplin yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan dunia modern.
Penerapan interdisiplin dapat ditemukan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, penelitian ilmiah, dan inovasi teknologi. Dalam pendidikan, pendekatan ini memperkaya proses pembelajaran dengan menghubungkan berbagai disiplin ilmu. Dalam penelitian ilmiah, interdisiplin membantu menemukan solusi terhadap persoalan global seperti perubahan iklim. Sementara dalam bidang teknologi, kolaborasi lintas ilmu mendorong terciptanya inovasi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dengan demikian, pendekatan interdisipliner dalam studi Islam menjadi sangat penting untuk menghadirkan pemahaman agama yang lebih kontekstual, moderat, dan relevan dengan perkembangan zaman. Islam tidak hanya dipahami sebagai ajaran ritual semata, tetapi juga sebagai pedoman hidup yang mampu menjawab persoalan sosial, budaya, pendidikan, dan kemanusiaan secara holistik. []
Editor, Ajay MZ