Dari Padang untuk Indonesia: Wisuda Perdana Doktor Studi Islam UM Sumbar dan Tanggung Jawab Baru Intelektual Muslim


Dari Padang untuk Indonesia: Wisuda Perdana Doktor Studi Islam UM Sumbar dan Tanggung Jawab Baru Intelektual Muslim

*Oleh: Dr. Julhadi, MA*
_Ketua Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat_

*PADANG -* Setiap perguruan tinggi memiliki titik baliknya sendiri. Bagi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, titik balik itu datang pada *Sabtu, 7 November 2026, di Hall Prof. Dr. Syafi'i Ma'arif Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.*

Pada hari itu, untuk pertama kalinya sejak program ini dibuka, UM Sumatera Barat melepas 4 lulusan jenjang doktoral bidang Studi Islam dalam momentum wisuda perdana Program Doktor Studi Islam. Jika selama ini kita hanya mendengar mahasiswa UM Sumbar berangkat ke luar daerah untuk meraih gelar doktor, kini arah itu berbalik. Padang kini menjadi tempat tujuan, bukan lagi sekadar tempat persinggahan untuk menempuh pendidikan tinggi.

Keempat doktor pertama itu adalah *Dr. Zulkifli* dari Kementerian Agama Kota Sawahlunto, *Dr. Aslinda* Kepala MTsN 2 Tanah Datar, *Dr. M. Fikar* Kepala SMK 1 Muhammadiyah Kota Padang, dan *Dr. Sayfrion* Dosen Universitas Adzkia Kota Padang.

.                          Dr. Julhadi, MA

Empat nama, empat latar belakang, satu kesamaan: mereka adalah perintis. Mereka yang berani percaya pada program yang baru, yang bersabar menjalani proses yang panjang, dan yang kini membuktikan bahwa doktor Studi Islam bisa lahir dari Padang.

Peristiwa ini mungkin terlihat sederhana bagi orang di luar kampus. Namun bagi kami yang berada di dalam prosesnya, ini adalah buah dari proses yang panjang dan tidak instan.

Membangun program doktor berarti membangun ekosistem. Ia tidak cukup hanya dengan membuka penerimaan mahasiswa baru. Ia menuntut kesiapan dosen pembimbing yang memiliki rekam jejak riset, perpustakaan yang memadai, sistem penjaminan mutu yang ketat, serta keberanian untuk menolak kelulusan yang tidak memenuhi standar.

Karena itu, wisuda perdana pada 7 November 2026 ini harus dibaca sebagai sebuah pernyataan kualitas, bukan sekadar perayaan kuantitas.

*Bukan Sekadar Gelar, Tetapi Cara Berpikir*

Banyak orang masih memandang gelar doktor sebagai puncak karier akademik. Padahal, esensi dari pendidikan doktoral justru sebaliknya, ia adalah awal dari cara berpikir yang lebih rendah hati.

Seorang doktor Studi Islam tidak dilatih untuk merasa paling benar. Ia dilatih untuk meragukan kesimpulan yang terburu-buru, menguji dalil dengan metode yang ketat, dan membedakan antara teks yang sakral dengan tafsir yang manusiawi.

Di tengah banjir informasi keagamaan di media sosial, kemampuan inilah yang sangat dibutuhkan masyarakat. Kita tidak kekurangan penceramah. Kita kekurangan penelaah yang sabar, yang mau membaca sumber primer, yang berani mengatakan "saya belum tahu" sebelum menyampaikan pendapat.

Keempat lulusan perdana ini diharapkan hadir untuk mengisi kekosongan itu. Dr. Zulkifli di lingkungan Kementerian Agama, Dr. Aslinda di madrasah, Dr. M. Fikar di sekolah Muhammadiyah, dan Dr. Sayfrion di perguruan tinggi, masing-masing memegang posisi strategis untuk menjadi penyeimbang, bukan provokator. Menjadi penjernih, bukan perkeruh suasana.

*Menjawab Tantangan Ranah Minang*

Sumatera Barat memiliki kekhasan yang tidak dimiliki daerah lain. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah bukan sekadar semboyan. Ia adalah identitas yang hidup dalam nagari, surau, dan keluarga.

Namun identitas itu kini diuji oleh perubahan yang sangat cepat. Arus digital, pergeseran otoritas keagamaan, hingga krisis keluarga dan generasi muda, semuanya membutuhkan jawaban yang tidak bisa lagi diselesaikan dengan pendekatan lama.

Di sinilah peran doktor Studi Islam menjadi strategis. Mereka tidak hanya bekerja di ruang seminar. Mereka bekerja di ruang publik, membantu nagari merumuskan kebijakan berbasis nilai, membantu MUI dan ormas Islam mengambil keputusan yang argumentatif, dan membantu pemerintah daerah melihat persoalan sosial dari kacamata keislaman yang utuh.

UM Sumatera Barat tidak ingin mencetak doktor yang hanya sibuk di menara gading. Kami ingin mencetak doktor yang kakinya berpijak di surau, tetapi pandangannya menjangkau dunia.

*Tanggung Jawab Setelah Wisuda*

Saya selalu mengingatkan para mahasiswa di akhir bimbingan, toga yang dipakai saat wisuda akan mudah dilepas. Yang tidak boleh dilepas adalah integritas.

Masyarakat akan menilai doktor bukan dari judul disertasinya, tetapi dari sikapnya setelah pulang ke kampus, ke kantor, dan ke kampung halaman. Apakah ia semakin tawadhu atau justru semakin merasa paling pintar. Apakah ia semakin bermanfaat atau justru semakin jauh dari umat.

Karena itu, wisuda perdana ini juga merupakan ujian bagi kami sebagai pengelola program. Apakah lulusan kami benar-benar akan memberi manfaat. Jawabannya tidak bisa dinilai hari ini. Ia baru bisa dinilai lima atau sepuluh tahun ke depan, dari karya, dari sikap, dan dari kontribusi nyata mereka.

Bagi UM Sumatera Barat, ini adalah awal dari babak baru. Setelah wisuda perdana pada 7 November 2026 di Hall Prof. Dr. Syafi'i Ma'arif ini, pekerjaan kami justru bertambah. Kami harus memperkuat publikasi internasional, memperluas kolaborasi riset dengan perguruan tinggi di Malaysia, Turki, dan Timur Tengah, serta membuka ruang bagi mahasiswa doktor untuk terlibat dalam riset-riset yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Kami juga berkomitmen untuk menjaga agar Program Doktor Studi Islam ini tetap inklusif. Ia terbuka bagi siapa saja yang memiliki kesungguhan belajar, dari latar belakang pesantren, kampus, birokrasi, maupun dai yang selama ini mengabdi di lapangan.

Pada akhirnya, wisuda perdana ini bukan milik prodi semata. Ia milik Muhammadiyah, milik Sumatera Barat, dan milik umat Islam Indonesia.

Jika suatu hari nanti, para doktor alumni perdana ini menjadi rektor, ketua MUI, kepala kantor wilayah, penulis buku, atau sekadar menjadi guru ngaji yang tetap istiqamah di nagarinya, maka saat itulah kita bisa berkata bahwa wisuda perdana pada 7 November 2026 itu benar-benar bermakna.

Selamat kepada Dr. Zulkifli, Dr. Aslinda, Dr. M. Fikar, dan Dr. Sayfrion. Kalian bukan angkatan biasa. Kalian adalah angkatan perintis. Sejarah akan selalu mencatat nama kalian sebagai yang pertama.

Dan menjadi yang pertama berarti memiliki tanggung jawab untuk membuka jalan bagi yang berikutnya.

By, 
Ajay

Post a Comment

Previous Post Next Post