BELAJAR DARI TRANSFORMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA BARAT: MEMBANGUN KAMPUS DAERAH MENUJU DAYA SAING GLOBAL
Oleh: EDY JUARMINSON, M.Pd.
Mahasiswa Program Doktor Studi Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
Artikel, kawal bangsa.com -----
Transformasi Tidak Pernah Dimulai dari Gedung
Dalam diskursus pendidikan tinggi Indonesia, keberhasilan sebuah universitas masih terlalu sering diukur melalui indikator-indikator yang bersifat kasatmata: megahnya bangunan kampus, jumlah mahasiswa baru, status akreditasi, atau posisi dalam berbagai pemeringkatan nasional dan internasional. Padahal, indikator-indikator tersebut hanyalah konsekuensi dari sebuah proses yang jauh lebih mendasar. Transformasi universitas sesungguhnya dimulai dari perubahan cara berpikir, perubahan budaya akademik, dan keberanian institusi membangun identitas keilmuan yang relevan dengan tantangan zaman.
Sebagai mahasiswa Program Doktor Studi Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UM Sumatera Barat), saya menyaksikan proses perubahan itu bukan sebagai pengamat dari luar, melainkan sebagai bagian dari komunitas akademik yang mengalaminya secara langsung. Transformasi yang sedang berlangsung tidak hanya tampak pada pembangunan infrastruktur fisik atau peningkatan layanan administrasi, tetapi lebih nyata pada tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa universitas harus bergerak melampaui fungsi tradisional sebagai lembaga pengajaran menuju institusi penghasil pengetahuan (knowledge-producing university).
Perubahan seperti inilah yang sesungguhnya menjadi fondasi bagi lahirnya universitas yang berdaya saing global.
Krisis yang Jarang Dibahas: Mentalitas Pinggiran
Berbagai forum pendidikan tinggi hampir selalu membahas akreditasi, publikasi ilmiah, atau peringkat universitas. Namun, terdapat persoalan yang jauh lebih fundamental, tetapi jarang memperoleh perhatian serius, yaitu krisis mentalitas institusi.
Tidak sedikit perguruan tinggi di daerah yang secara tidak sadar mengembangkan apa yang dapat disebut sebagai mentalitas pinggiran (peripheral mindset). Kampus merasa dirinya tertinggal bahkan sebelum memasuki arena kompetisi. Akibatnya, orientasi kebijakan lebih banyak diarahkan untuk mengejar ketertinggalan daripada menciptakan keunggulan yang bersifat khas dan berkelanjutan.
Dalam perspektif manajemen perubahan, hambatan terbesar organisasi bukanlah keterbatasan sumber daya, melainkan resistensi terhadap perubahan paradigma (Kotter, 2012). Oleh karena itu, keberanian sebuah universitas menetapkan standar mutu yang tinggi bagi dirinya sendiri merupakan titik awal transformasi kelembagaan.
Saya melihat UM Sumatera Barat sedang berusaha keluar dari jebakan psikologis tersebut. Kampus ini mulai memosisikan dirinya bukan sekadar sebagai perguruan tinggi regional, melainkan sebagai institusi yang memiliki aspirasi untuk berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan di tingkat nasional bahkan global. Perubahan orientasi inilah yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar peningkatan angka statistik kelembagaan.
Digitalisasi Bukan Sekadar Administrasi
Gelombang transformasi digital sering dipersepsikan hanya sebagai upaya mempercepat pelayanan administrasi akademik. Padahal, digitalisasi memiliki implikasi yang jauh lebih strategis.
Teknologi telah meruntuhkan batas geografis yang selama puluhan tahun menjadi kendala utama perguruan tinggi di luar pusat-pusat pendidikan nasional. Mahasiswa di Padang kini memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti seminar internasional, mengakses jurnal bereputasi, membangun jejaring riset lintas negara, bahkan berkolaborasi dengan akademisi dari berbagai belahan dunia.
Dalam konteks ini, ukuran kualitas perguruan tinggi tidak lagi ditentukan oleh lokasi geografisnya, melainkan oleh kapasitas institusi memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses terhadap pengetahuan global. Digitalisasi telah menggeser paradigma lama bahwa kampus unggul hanya dapat tumbuh di kota-kota besar. Yang menjadi pembeda kini adalah kemampuan membangun ekosistem pembelajaran yang adaptif, terbuka, dan inovatif.
Dari Teaching University Menuju Research University
Perguruan tinggi abad ke-21 tidak dapat lagi bertahan hanya sebagai institusi pengajaran. Universitas dituntut menjadi produsen ilmu pengetahuan, inovasi, dan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir, saya mengamati tumbuhnya budaya penelitian yang semakin kuat di UM Sumatera Barat. Publikasi ilmiah perlahan tidak lagi dipandang sebagai beban administratif, tetapi mulai menjadi bagian dari identitas akademik dosen dan mahasiswa.
Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma dari teaching university menuju research-oriented university.
John Salmi (2009) menegaskan bahwa universitas berkelas dunia dibangun di atas tiga pilar utama: sumber daya manusia yang unggul, tata kelola yang efektif, dan budaya riset yang kuat. Ketiga aspek tersebut tidak dapat diwujudkan secara instan, melainkan melalui proses transformasi kelembagaan yang konsisten dan berkelanjutan.
Universitas yang besar bukanlah universitas yang memiliki gedung paling megah, tetapi universitas yang mampu melahirkan gagasan-gagasan besar. Dalam dunia akademik, reputasi dibangun melalui kontribusi intelektual, bukan melalui kemegahan fisik.
Islam Berkemajuan sebagai Fondasi Transformasi
Keunggulan UM Sumatera Barat tidak hanya terletak pada upayanya meningkatkan kualitas akademik, tetapi juga pada identitas ideologisnya sebagai bagian dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, revolusi digital, dan disrupsi teknologi, dunia justru menghadapi paradoks kemanusiaan. Informasi berkembang tanpa batas, tetapi kebijaksanaan tidak selalu bertumbuh.
Teknologi semakin canggih, tetapi krisis moral dan ketimpangan sosial tetap mengemuka.
Dalam situasi demikian, pendidikan tinggi Islam memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan lulusan yang kompeten secara profesional. Universitas harus melahirkan intelektual yang memiliki integritas moral, tanggung jawab sosial, serta kemampuan mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai etik dan spiritual.
Konsep Islam Berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah menawarkan kerangka berpikir yang relevan untuk menjawab tantangan tersebut. Islam diposisikan sebagai kekuatan transformatif yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, inovasi, keadaban publik, dan kemaslahatan umat. Karena itu, kampus Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan moral.
Menembus Batas Regional
Tantangan terbesar UM Sumatera Barat bukan lagi menjadi universitas terbaik di wilayah Sumatera Barat. Tantangan yang lebih strategis adalah bagaimana hasil riset, inovasi, dan pemikiran akademiknya mampu memberikan pengaruh pada level nasional bahkan internasional.
Perjalanan menuju tujuan tersebut tentu memerlukan konsistensi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas jejaring kolaborasi global, memperkuat tata kelola universitas, serta membangun budaya mutu yang berkelanjutan. Namun, sejarah menunjukkan bahwa universitas-universitas besar dunia tidak lahir dari kondisi yang sempurna. Mereka tumbuh karena memiliki visi yang jelas, kepemimpinan yang kuat, dan keberanian melakukan perubahan secara terus-menerus.
Dalam konteks tersebut, transformasi yang sedang berlangsung di UM Sumatera Barat layak dipahami sebagai investasi jangka panjang. Yang sedang dibangun bukan sekadar reputasi institusi, melainkan fondasi bagi lahirnya universitas yang memiliki kapasitas menghasilkan pengetahuan, memengaruhi kebijakan publik, dan berkontribusi terhadap pembangunan peradaban.
Penutup
Transformasi perguruan tinggi pada akhirnya bukanlah proyek pembangunan fisik, melainkan proyek pembangunan peradaban. Universitas yang berhasil bukan hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan gagasan, inovasi, dan kepemimpinan intelektual yang mampu menjawab persoalan bangsa.
Sebagai bagian dari sivitas akademika UM Sumatera Barat, saya memandang bahwa perubahan yang sedang berlangsung merupakan momentum penting untuk membangun universitas yang tidak lagi dibatasi oleh identitas geografisnya sebagai kampus daerah.
Yang menentukan masa depan sebuah universitas bukanlah letaknya di pusat atau di pinggiran, melainkan keberanian membangun budaya akademik yang unggul, integritas ilmiah yang kokoh, serta visi global yang berpijak pada nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.
Apabila transformasi ini dijaga dengan konsisten, UM Sumatera Barat tidak hanya akan menjadi institusi pendidikan tinggi yang kompetitif, tetapi juga berpotensi tampil sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam yang berkontribusi bagi Indonesia dan komunitas akademik internasional.
Daftar Pustaka
Altbach, P. G., & Salmi, J. (Eds.). (2011). The Road to Academic Excellence: The Making of World-Class Research Universities. World Bank.
Kotter, J. P. (2012). Leading Change. Harvard Business Review Press.
Muhammadiyah. (2015). Risalah Islam Berkemajuan. Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Salmi, J. (2009). The Challenge of Establishing World-Class Universities. The World Bank.
UNESCO. (2021). Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education. UNESCO Publishing.[]
Editor, Ajay