GOOGLEISASI PENGETAHUAN: APAKAH MANUSIA MASIH PERLU MENJADI CERDAS?
Oleh: Dr. (Cand.) Edy Juarminson, M.Pd.
Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam UM Sumbar
Artikel,kawalbangsa.com ------
Transformasi digital yang berlangsung secara masif telah merekonfigurasi cara manusia memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran mesin pencari seperti Google telah menciptakan akses informasi yang cepat, luas, dan hampir tanpa batas ruang maupun waktu. Fenomena ini melahirkan suatu realitas baru yang dapat disebut sebagai Googleisasi Pengetahuan, yakni kondisi ketika aktivitas pencarian informasi lebih dominan dibandingkan proses refleksi, pemahaman mendalam, serta internalisasi pengetahuan itu sendiri. Artikel ini bertujuan menganalisis secara kritis implikasi Googleisasi Pengetahuan terhadap konstruksi kecerdasan manusia, dinamika pendidikan kontemporer, dan arah perkembangan peradaban masa depan. Melalui pendekatan filosofis-kritis dan analisis konseptual, tulisan ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital tidak menghilangkan urgensi kecerdasan manusia, melainkan menggeser definisi dan orientasinya. Pada era kecerdasan buatan dan sistem pencarian digital, manusia tidak lagi dituntut menjadi penyimpan informasi, tetapi ditantang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, reflektif, etis, serta kemampuan mentransformasikan informasi menjadi kebijaksanaan. Oleh karena itu, agenda utama pendidikan abad ke-21 bukan sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan membentuk individu yang mampu menyeleksi, menafsirkan, dan memaknai limpahan informasi secara bertanggung jawab demi keberlangsungan peradaban manusia yang lebih beradab.
Perjalanan sejarah manusia belum pernah menyaksikan suatu periode ketika informasi tersedia dalam jumlah yang sedemikian besar dan dapat diakses dengan begitu mudah seperti pada era digital saat ini. Kemajuan teknologi informasi memungkinkan individu memperoleh beragam pengetahuan dari berbagai belahan dunia hanya dalam hitungan detik melalui perangkat yang berada di genggamannya. Dalam konteks tersebut, mesin pencari tidak lagi berfungsi sekadar sebagai alat bantu pencarian data, tetapi telah bertransformasi menjadi semacam "memori eksternal" yang menopang aktivitas intelektual manusia modern.
Perubahan tersebut memunculkan sebuah pertanyaan mendasar yang memiliki dimensi filosofis sekaligus pedagogis: apakah kecerdasan manusia masih memiliki nilai strategis ketika hampir seluruh informasi dapat diakses secara instan melalui Google dan teknologi kecerdasan buatan?
Pertanyaan ini bukan sekadar provokasi intelektual, melainkan refleksi atas perubahan paradigma pengetahuan yang sedang berlangsung. Pada masa lalu, individu yang dianggap cerdas umumnya diidentifikasi melalui kapasitas mengingat, menguasai, dan mereproduksi informasi dalam jumlah besar. Namun, dalam masyarakat digital, ukuran tersebut mulai kehilangan relevansinya karena sebagian besar informasi dapat diperoleh secara cepat melalui jaringan internet.
Konsekuensinya, muncul sebuah paradoks epistemologis. Di satu sisi, akses terhadap informasi semakin terbuka dan demokratis. Di sisi lain, kemampuan untuk memahami, mengkritisi, dan memaknai informasi justru menunjukkan kecenderungan mengalami degradasi. Banyak individu memiliki akses terhadap berlimpah informasi, tetapi tidak selalu memiliki kemampuan untuk mengonstruksi pengetahuan yang bermakna dari informasi tersebut.
Fenomena inilah yang menjadi titik tolak lahirnya konsep Googleisasi Pengetahuan, yaitu perubahan fundamental dalam hubungan manusia dengan pengetahuan pada era digital.
Googleisasi Pengetahuan: Pergeseran dari Budaya Mengingat ke Budaya Menelusuri
Dalam perspektif klasik, pengetahuan dipahami sebagai sesuatu yang tersimpan dan terinternalisasi dalam struktur kognitif manusia. Seseorang dianggap memiliki pengetahuan apabila ia mampu memahami, mengingat, serta menjelaskan informasi yang dimilikinya secara sistematis.
Namun revolusi digital telah mengubah asumsi tersebut secara signifikan. Pengetahuan tidak lagi sepenuhnya berada dalam memori individu, melainkan tersebar dalam jaringan digital yang dapat diakses kapan saja melalui perangkat teknologi.
Perubahan ini melahirkan pola kognitif baru. Jika pada masa lalu manusia berupaya mengingat isi informasi, maka saat ini manusia cenderung mengingat lokasi atau sumber tempat informasi tersebut dapat ditemukan. Dengan kata lain, kemampuan menelusuri informasi mulai menggantikan kemampuan menyimpan informasi.
Dalam kajian psikologi kognitif, fenomena tersebut dikenal sebagai cognitive offloading, yaitu proses pengalihan sebagian fungsi kognitif manusia kepada perangkat teknologi eksternal. Melalui mekanisme ini, Google tidak lagi sekadar berfungsi sebagai mesin pencari, tetapi berkembang menjadi sistem memori kolektif yang menopang aktivitas intelektual masyarakat global.
Di satu sisi, fenomena ini meningkatkan efisiensi dalam memperoleh informasi. Namun di sisi lain, ketergantungan yang berlebihan terhadap teknologi berpotensi mengurangi kapasitas reflektif manusia, terutama dalam mengolah informasi menjadi pengetahuan yang mendalam dan bermakna. []
Editor, Ajay, MZ